Travelling itu mahal

Posted: December 11, 2010 in travelling

Berbicara tentang salah satu hobby saya yaitu travelling yang menurut saya makin kesini makin mahal harus diakali dan disiasati… tidak seperti zaman dulu dari mulai masalah rute pesawat yang terbatas, dan ga bisa cari tahu langsung karena tiap mau beli tiket harus ke travel agent, yah gimana tidak aneh 10 tahun lalu internet tidak se booming sekarang yang kayaknya di tiap belokan ada, belum lagi tersedia di semua cafe ber wifi dan yang sudah paling canggih bisa ngecek lewat handphone sendiri. Nah dulu keterbatasan informasi ini juga menyebabkan orang jarang melirik luar negeri sebagai daerah tujuan wisata, kecuali kamu2  yang tajir dan dari dulu biasa bulak -balik luar negeri. Buku2 travelling versi bahasa indonesia pun dulu masih jarang sekali, hanya ada beberapa  saja itupun kemasannya tidak menarik, kalo sekarang sih lihat deh di toko buku, mulai dari majalah, novel, buku panduan di negara anu dan anu , meski belum terlalu banyak sekali tapi sudah banyak bermunculan, nampaknya juga mulai semakin ngetrend karena selain terpacu  acara tayangan televisi tentang jalan2 juga banyaknya majalah2 travelling dengan tujuan wisata yang menjanjikan makanya tak heran orang2 yang hobi jalan2 mulai menulis buku tentang ini, nah karena pasarnya baik mulailah keluar judul2 buku dengan versi berhemat atau berpergian dengan budget yang lagi booming sekarang yaitu ala backpackeran.

Menurut saya pribadi kalo seseorang ada biaya kemana-mana ga usah terlalu pengiritan, saya pribadi sih bukan Backpacker, saya cuman seorang yang hobi jalan2 kalo pergi2an seminggu atau lebih saya juga selalu membiasakan memakai travel bag selain ada rodanya jadi ga usah berat ditenteng juga membuat tatanan baju saya lebih rapih, lagipula lihat2 dulu tujuannya mau kemana,? kalo misal mau tracking atau ke hutan, atau wherever yang jalannnya ga mulus dan terpencil  alias jauh dari peradaban baru deh kayanya saya mau pakai ransel besar.  Nah sementara ransel  ukuran kecil lebih praktis dipakai untuk bepergian 2-3 hari saja.
Nah karena berhubung saya bukan orang tajir, maka kalo saya travelling ya saya biasanya tinggal di tempat berbudget gabung dengan para backpacker, walau ngikutin tips hemat buat saya pengalaman travelling itu TIDAK ada yang murah, semua nya perlu biaya yang TIDAK sedikit, sebenernya kalo bilang tergantung pergi nya kemana dulu, itu benar sekali..   tapi buat yang taraf hidupnya sangat standar zaman sekarang, yang gaji nya ga kemana-mana, jangankan mikirin hidup nabung buat travelling…. ada duit berlebih ujung2nya dipakai untuk kebutuhan pokok… makanya saya suka geleng2 kepala saja baca buku2 yang bilang kalo pergi kesana sini murah, tinggal di anu murah, buat saya apalagi tujuannya sudah ke luar negeri apalagi di luar Asia itu MAHAL

Meski tips2 dan buku2 itu ada benarnya dan memberi info trik2 dan sarana berhemat tapi menurut hemat saya kenyataan asli nya biaya yang dikeluarkan tidak pernah bisa sedikit, tapi saya juga bilang sangat mungkin karena

sebagian dari tips itu memang terbukti benar adanya…tapi  balik lagi sih kalo kita tidak punya koneksi buat tinggal bermalam atau siapapun yang membantu membiayai semua pasti kerasa lebih sulit untuk sangat bisa berhemat, kecuali kamu benar2 sudah gila…mau travelling ala gelandangan saja modal super duper nekat, tapi apakah jadinya pas pulang ke indonesia hal yang dibicarakan ke orang2 bukannya malah seputar gimana bisa survive makan dan tidur di jalanan di negeri orang saja? beberapa buku juga menceritakan mengalami pengalaman spiritual dengan review menarik, hmmm…. saya pribadi sih kalo cuman pergi tidak lama misal cuma seminggu atau 2 minggu maximal ga pernah ngerasain hal spiritual terlalu banyak  biasanya kalo saya pulang travelling yang paling terasa adalah saya merasa fisik saya makin kuat apalagi jika habis pulang hiking, atau berolahraga pantai seperti snorkeling atau diving atau  bahkan seminggu penuh berjalan mengelilingi kota yang hampir memakan waktu seharian, secara mental biasanya lebih pede, dan berani, dan karena melihat dan belajar sesuatu yang baru  saya jadi mulai mempertanyakan banyak hal yang biasanya tkeseharian hidup di indo tidak pernah saya perdulikan. nah kalo dari segi fisik travelling buat saya berpengaruh pada  kesehatan, seperti kondisi kulit yang asalnya sensitifnya minta ampun sekarang  sudah berkurang, terus masalah ga kuat cuaca dingin dulu sampai gatal2 dan bengkak parah, sekarang sudah  jauh mendingan, lalu agak2 jijik  saya melihat binatang yang hidup di laut, sekarang itu malah jadi favorit saya…..memegangi melihat dan menyentuh dan menyelami dunia mereka seperti melihat dunia yang baru bagi saya, Nah buat saya sendiri berbicara tentang hal spiritual  sih masuk akalnya  bisa dicapai apabila seorang sudah pergi berbulan-bulan dan stay di tempat yang atmospher dengan energi religiusnya kuat  baru saya bisa ngerti dan percaya. Untuk dapat pengalaman spiritual saya ulang hampir tak mungkin diraih dalam waktu seminggu.. perlu waktu dan pengalaman yang tidak sedikit serta pemahaman tingkat tinggi yang sangat lama bagi otak kita untuk  mencerna, dan memahami hal seperti itu.

U can take sundanesse girl out of Indonesia …… but u can’t take Indonesia out of sundanesse girl…..

Saya punya teman yang benar2 ingin merasakan hidup dan merasakan pengalaman spiritual , perjalanannya itu dimulai karena dia merasakan kehilangan yang amat besar yaitu kematian ibu nya  yang disebabkan oleh kanker ganas, karena itu lah dia memulai perjalanan luar biasa ini, pergi 18 bulan untuk keliling dunia, berhenti kerja dan mulai menyusun rencana besar ini. Saat dia mulai bercerita semua yang dia bilang tentang perjalanannya benar2 amazing, cara pandang dia akan hidup 360 derajat menjadi berbeda, dan baru kali ini saya melihat ‘orang yang benar2 hidup’ sedang berbicara di depan hidung saya menceritakan hal fascinating yang mungkin hanya segelintir saja orang2 alami dari mulai melihat indahnya kerlap kerlip warna warni lampu gedung pencakar langit kota Manhattan, bertahan di belantara Amazon, mendaki Machu pichu di Peru, menyusuri Argentina dan menikmati steak dengan porsi besar terbaik, mencoba pedasnya makanan Mexico, mengagumi megahnya air terzun Iguazu, bercermin di Saltlake daratan garam terbesar di Bolivia, menjelajahi Amerika selatan mengagumi tari Tanggo dan kemudian bertemu dengan wanita2 paling exotis, lalu menuju Barcelona melihat megahnya Sagrada Familia mengitari eropa, smoking some dope di Amsterdam kemudian memuja menara Eiffel ..melihat karya pelukis terkenal di La Louvre paris menikmati wine dan keju terbaik disana, setelah itu berkeliling iItaly dengan Vespa dengan italian ice cream yang super lezat, bersampan di Venice kota cinta, lalu  menaklukan pegunungan Alpen sampai singgah menuju ke atas Norwegia tempat  terdekat melihat beruang kutub  berjalan2 beberapa meter di depan mu, dan tempat melihat indahnya Aurora di langit  utara, lalu  mengunjungi Drakula kastil di Rumania, merasakan tulang membeku di saat musim dingin terhebat di Ukraina,  menikmati panasnya mentari di Malta kemudian terbang menuju Nepal untuk  bertemu dengan Yak2 liar, diantara dinginnya Everest, kemudian membelah sungai Gangga dan gunung Himalaya serta mengupas habis daratan India yang penuh mistis, dan sekaligus menyaksikan harimau liar di alam bebas, india yang luas dan Incredible… tangis, suka dan duka mulai dari ditipu dicurangi orang lokal sampai terkena diare berkepanjangan di india ini, tak lupa menikmati indahnya Taj Mahal, kemudian berlanjut ke Rusia menikmati Vodka dan cantiknya Kremlin, kemudian mampir ke china untuk melihat Panda yang manis,  bertandang ke tempat judi terbesar di Macau,  menengok indahnya bunga sakura di jepang, setelah  itu bersnokeling sambil menikmati exotic nya pantai2 Thailand  plus dikejar kejar waria sexy , terbang ke Indonesia yang cantik  menjumpai berbagai budaya dan suku di Baduy, Tana Toraja dan Papua,  berscuba diving di Bunaken, ditarik tarik dicubit cubit dan menjadi pusat perhatian bagaikan Alien di Ambon sampai menangis merasa parno dan ketakutan, kemudian berlanjut ke Australia menjumpai kanggoro dan berenang dengan kawanan Dolphin, lalu ber sky diving di New Zealand mengagumi negeri hamparan karpet hijau dan inspirasi dunia khayalan woooow cerita yang tak pernah habis didengar berhari hari pun…Backpacking 18 BULAN mengunjungi tempat2 tadi !!! itupun masih banyak  sekali tempat yang belum dia kunjungi seperti benua Afrika dan area Timur tengah, tapi seperti itulah yang menurut saya sebut travelling !! maksudnya perjalanannya bukan harus begitu  apalagi kendalanya  buat kita kalo bukan waktu dan dana meskipun toh travellingnya ala Backpacker  tetap saja namanya orang keliling dunia harus punya dana maximal belum lagi buat WNI seperti kita lumayan ribet  dalam pengurusan masalah dokumen perjalanan alias Visa ini.
Tapi memang tak disangkal semakin lama dan kamu semakin terjun ke dalam satu budaya tersebut maka akan semakin kamu mengerti  dan memahami perbedaan itu, hasilnya saat kamu pulang  kembali ke Indonesia kamu akan dapat melihat sesuatu dari cara pandang berbeda, muluknya dapat pencerahan atau minimal pengalaman amazing yang meninggalkan pengalaman berbekas seumur hidup yang dapat merubah cara berpikirmu yang kemudian membangun mental serta spiritualmu !! saya kadang suka menyayangkan dengan orang2 yang mampu travelling karena tajir tapi beberapa kali travelling karena ikut tur misal keliling eropa 2 minggu, sebulan dari itu jika saya tanya bagaimana kesan dan pengalaman nya, kebanyakan dari mereka bilang ‘hmm … yang jelas senang dan bangga bisa melihat eropa jadi bisa pamer ke teman2 doong, tapi terlepas dari souvenirs buat kenang2an yang dipajang di ruang tamu beserta ratusan foto narsis untuk dipajang di facebook selebihnya  sih lupa, soalnya bawaan kita home sick pengen makan makanan indonesia, abis makanannya hambar, udaranya terlalu dingin, udah gitu kita lumayan kecapean turun naik bus, plus terbang sana sini’ …. nah loh!!  Pergi ke 10 negara hebat2 di eropa selama 2 minggu, lewat sebulan dari itu ga ada sedikitpun yang sangat berbekas ??? cape deeeh!!! But ya terlepas menyayangkan akan tidak berbekasnya pengalaman yang harusnya  buat saya harusnya jadi perfect days itu … saya bisa mengerti alasannya : Budaya kita biasa ririungan alias segala sesuatu sama teman dan keluarga, terbiasa hidup dekat dengan tetangga, sudah menikah dibawa suami pun masih tinggal dengan mama, lah mana bisa independent  tanpa keluarga berpergian lama2 dan terpisah sejauh ratusan ribu km dari rumah , terus juga masalah udara…pastinya kita ga akan kuat, karena kita terbiasa dimanjakan udara tropis  yang hangat, pasti menggigil dong dibawa ke negara bersalju, kalo masalah makanan seperti orang bilang ‘u can take sundanesse girl out of indonesia but u can’t take indonesia out of the sundanesee girl.’.. saya pun sangat mengakui itu dimana pun saya berada, saya tetap orang indonesia, makanan yang saya selalu saya rindukan selalu sama : kerupuk ,sambal terasi pedas, ikan asin, nasi liwet/timbel plus lalapan dan jengkol


Typical kebanyakan orang travelling:  Serba Hemat, Murah, Gratis

Karena tuntutan pekerjaan rutinitas dan biaya bukan hal yang mudah pergi berbulan bulan untuk benar2 bisa merasakan dan melihat dunia dari sisi yang berbeda apalagi tujuannya untuk merasakan pengalaman spiritual dan kepuasaan adventure  tersendiri.  Seorang yang mau nge explore negara orang dan mempelajari tempat, sejarah, makanan, kebiasaan dan budaya baru dengan ide penghematan saya kira membatasi makna akan sisi pengalamannnya, kesan yang didapat sudah bisa survive saja  sudah untung, sudah menginjakan kaki di luar negeri saja sudah cukup puas. Kekurangan buku travelling di Indonesia lebih ke sisi seputar murah hemat dan gratis seperti yang diinformasikan, tidak seperti buku2 luar  mulai dari novel yang habis2an memotivasi orang travelling dengan cerita2 yang amazing, karena itu  tadi isi buku luar tidak melulu soal penghematan dan kita tahu lah apalagi alasannya  kalo bukan perbedaan ekonomi dan taraf hidup yang berbeda. Selain itu buat saya pribadi travelling ala rushing alias terburu-buru bukan style saya sama sekali, maksudnya rushing adalah kebanyakan dari kita kalo ingin melihat 5 sampai 10 negara berbeda kayanya cukup dengan menghabiskan 2 minggu alias  singgah doang, buat saya pribadi, travelling itu tidak hanya singgah doang jika mungkin saya lebih suka tinggal lebih lama dan mempelajari budaya, kebiasaan, makanan dan belajar hal baru, kalo niatan 2 minggu singgah minimal ke 5-8 negara berbeda nantinya niatan hanya untuk dibukukan di penerbit sih silakan syah2 saja, apalagi bagi yang bekerja dan tidak punya waktu cuti lama, dan dana terbatas, hanya  saja travelling gaya itu bukan style saya, pencapaian tentang cita2 saya keliling dunia ini maunya tidak hanya sekedar singgah sana-sini saja, karena buat saya travelling lebih kepada pembelanjaran. Buku2 yang bermunculan sekarang yang ditulis oleh penulis Indonesia  (meski tidak semua) apabila terlalu menonjolkan ke sisi budget membuat materi penyajian tentang experience dan hal2 excitingnya jadi minim yang berujung kepada ‘sense of travellingnya sendiri jadi kurang Greget’  (maaf loh mba2 dan mas2 penulis buku travelling, juga pembaca dan penggemar berat traveling ala rushing dan penghematan yang konsumennya berorientasi kepada orang2 sibuk, tak punya waktu banyak, para pelajar yang perlu liburan dengan dana terbatas. itu  semua hanya pandangan subjektif saya saja) Maka ujung2nya balik lagi ke : Ada harga ada Mutu. Tapi balik lagi kok …semua itu subjektif hanya orang yang pernah ngalamin travelling gaya itu yang paling tahu hal itu menyenangkan atau tidak 

KENYATAAN PAHIT

Jangan muluk2 bercerita tentang seorang pelajar biasa yang cuma dikasi duit jajan standar akhirnya bisa backpackeran ke negeri tetangga buat waktu seminggu, saya tidak bilang itu tidak mungkin, pasti banyak yang sudah melakukan hal ini tapi coba pikir…  untuk beli tiket PP dan survive seminggu, setidaknya harus ada uang terkumpul minimal sekali 3-4 juta  Untuk mengumpulkan uang itu perlu waktu bertahun-tahun … kalo kamu bukan orang berada bayangkan 3 atau 4 juta buat ukuran pelajar!! terlepas dari menang undian, diundang dan dibiayai teman, dapat beasiswa dari instansi atau sekolah, dapat tiket promo Rp o rupiah dan penginapan gratis serta serentetan keajaiban yang tidak semua orang bisa dapat, menurut saya sih itu mahal!! Pernah saya dapat promo tiket Rp o dari Air asia untuk  bulan Juli lalu tujuan Jakarta-Kuching PP  saya dapet promo itu waktu bulan Oktober 2009 tadinya sudah excited dapet gratisan, dan saya memutuskan tinggal 10  hari untuk mengexplore kuching dan serawak, eeh ehhh ujung2nya sebulan dari itu saya dikabarin, katanya penerbangan ini rutenya mulai 2010 di cancel dan belum tahu lagi kapan akan beroperasi, yah dasar memang belum milik saya

Sekarang membicarakan pegawai yang sudah kerja berstandar UMR saja buat biaya sehari-hari aja kadang tidak bisa nabung, biasanya juga uang di ATM pun dikuras habis karena kebutuhan beragam tiap bulan, mau nabung buat traveling nya saja sudah susah minta ampun. kecuali ceritanya orang2 yang per bulannya gajinya diatas 15 juta nah itu lain masalah deh., tapi ini  loh orang2 ber gaji standar mau cari tiket promo atau gratisan yang langka sekali terjadi untuk bayar harga tiket pesawat pulang pergi nya saja sudah berapa puluh kali bulan tabungan tuh!! hmm.. perjuangannya itu loh BO!!

masalah juga tak habis disitu, jika kamu mau bepergian ke negara yang mengharuskan membuat visa itu benar2 Pain in the Ass. Beberapa negara memang tidak terlalu sulit persyaratannya, tapi beberapa negara juga luar biasa sulit alias ribet tingkat tinggi. Suka duka membuat visa ini juga kadang membuat  seorang jadi berubah pikiran kalo niat apply nya ga sepenuh hati karena prosesnya selain bikin deg2an, nervous dan  mengeluarkan biaya (lagi), itu loh ongkos bolak balik ke kedutaan pas waktu apply visa dan balik lagi buat mengambilnya, mending buat yang tinggal di Jkt ongkosnya ga terlalu berat.. lah ini kita yang tinggal di luar Jakarta, mana sudah keluar duit di layani dengan pertanyaan yang mengintimidasi oleh pihak kedutaan, setelah itupun belum tentu kita di approve lagi.. bete! saya ingat sekali 2 tahun lalu saat saya mengunjungi kedutaan Jerman untuk mendapatkan informasi saya diperlakukan tidak  ramah sama sekali, saya berharap datang kesana bakal dapet kejelasan mau memastikan ulang seluruh persyaratan di website tapi melihat penjagaan berlipat lipat,  dengan gedung kedutaan yang ditutupi kawat berduri, karena saya belum mengisi data,  mereka lalu menyuruh saya mengisi formulir diluar tanpa tempat duduk yang layak di luar kedutaan berpanas-panas pula, belum lagi kertas berlembar lembar yang harus diisi hampir terbang kemana-mana , kesan yang saya tangkap adalah  ‘heh lu WNI, ngapain sih mau ke jerman? ”  berdasarkan kesan ini juga nampaknya saya akan sangat dipersulit mendapatkan visa negara ini, 2 kali saya kesana sampai saya kapok melihat perlakuan mereka, karena kesal dan bulak-balik keluar gedung untuk melengkapi persyaratan, yang parah di tengah jalan saya sampai kehilangan paspor dan handphone saya waktu itu  karena tidak konsentrasi dan emosi. Saya ingat sekali jadinya saya harus kembali ke Bandung untuk mendapat paspor baru yang prosesnya super duper sulit hiiiii! ga bakalan hilang lagi deh!!!

Pengalaman tidak enak kedua waktu saya apply untuk visa Inggris, pertanyaan2 yang dilontarkan dengan tegas tanpa basi basi seperti di ruang sidang membuat saya nervous dan senewen, bagaimana tidak, kesannya semua yang saya bilang nampaknya tidak mereka percaya, mereka membulak-balikan masalah dan menanyakan ini dan itu dengan sangat detail dan sangat menginterogasi sekali terlebih lagi saya bilang saya bakalan tinggal berbulan -bulan karena saya mau nge explore inggris  (yang kemudian baru saya sadar tidak seharunya saya mengatakan jangka waktu lama untuk dapat visa kalo tidak ingin dicurigai macam2)…yah saya waktu itu dalam kondisi harus mau maklum dan menerima saja dengan perlakuan mereka, karena  toh saya yang perlu dan harus mengerti mereka bersikap begitu hanya untuk memastikan orang indonesia yang diberi visa inggris ini akan pulang kembali ke indonesia dan tidak menetap disana. Saya sepenuhnya mengerti ketakutan mereka dengan masalah imigran gelap yang akhirnya menetap disana, cari kerja, menetap dan ga pulang lagi. Yah gara2 imigran2 itu saya jadi kena imbas alias DICURIGAI, selain itu orang2 British  yang kerja di kedutaan terkenal logis dan kritis menyimpulkan sesuatu berdasarkan kasus yang sering terjadi, maka Mrs Sandra yang meng interview saya pun bersikap dingin, terkesan sinis dan penuh curiga. Dari pengalaman dijutekin  tidak mengeenakan seperti itu saja menimbulkan niat travelling saya ke negara tujuan jadi sedikit berkurang sampai akhirnya setelah mencoba meng email berulang ulang semua data dan memastikan lagi persyaratannya lengkap akhirnya visa saya di approve juga pada akhirnya…. Visa ini juga lucu , meski ternyata kamu tajir bisa menyerahkan bukti keuangan ternyata belum tentu juga di approve, temanku sampai bilang… ‘curang lo bisa dapet visa inggris papa ku aja seorang yang paling penting di perusahaan tanpa kesulitan keuangan ga di approve visa nya….. nah ini lebih aneh lagi kan?

Untuk travelling ke luar negeri isu lain adalah punya tidaknya kartu NPWP, bagusnya bebas fiskal ini tahun 2011 akan ditiadakan, meskipun begitu timbul pasport baru dengan harga 670 ribu yang didalamnya terdapat chips, namun katanya juga masih diberikan pilihan bagi yang tidak mau membuat e paspor ini masih bisa apply paspor dengan harga yang standar 270 ribu,  hanya yang jelas masalah lain yang bikin ziper simpel saja berapapun gaji mata uang rupiah kita kalo kita tukar ke mata uang luar negeri bikin miris saja melihatnya …

Catatan : Meski Travelling mahal tapi Memperkaya Jiwa kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s